Bagaimana Terjadinya Gelombang Tsunami
Tsunami adalah gelombang laut berskala besar yang disebabkan oleh
pergerakan tiba-tiba dari lantai samudera. Pergerakan tiba-tiba ini
dapat berupa gempabumi, letusan gunngapi yang sangat besar, atau adanya
longsoran bawahlaut. Benturan meteorit juga dapat menyebabkan tsunami.
Gelombang tsunami merambat di laut terbuka dengan sangat cepat dan
membentuk gelombang besar ketika memdekati pantai / laut dangkal.

Zona penunjaman dan area gesekan antara dua lempeng
Zona penunjaman merupakan area yang potensial bagi bencana tsunami.
Karena di zona ini akan banyak sekali dijumpai titik-titik pusat gempa
dan rangkaian jalur gunungapi. Lebih jelasnya tentang gempa dan
gunungapi ini, khususnya di Indoensia, dapat dilihat pada uraian
terdahulu,
“Tektonik Indonesia: Kondisi dan Potensinya”. Sedangkan bagaimana proses penunjaman itu berlangsung dapat dilihat pada postingan
“Animasi Mekanisme Penunjaman Kerak Samudera”.
Sebagian besar tsunami disebabkan oleh gempa bumi pada zona
penunjaman, area dimana lempeng samudera berbenturan dan menunjam di
bawah lempeng benua. Gesekan antara dua lempeng ini mengakumulasikan
energi yang sangat besar yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan secara
tiba-tiba sebagai gempa bumi.

Akumulasi energi yang menyebabkan penekukan perlahan pada lempeng benua
Energi yang terakumulasi ini secara perlahan menyebabkan penekukan
perlahan pada kerak benua. Meskipun kita yang tinggal di atasnya tidak
akan merasakan penekukan tersebut. Akumulasi energi ini serupa dengan
energi yang tersimpan kalau kita menekan sebuah pegas atau membengkokan
batang rotan. Saat tekanan kita lepaskan, energi pada pegas atau rotan
akan dilepaskan untuk mengembalikannya ke bentuk semula. Akumulasi
energi pada lempeng benua ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang
sangat lama, puluhan tahun atau bahkan abad.

Akumulasi energi mencapai titik jenuh dan menyebabkan gempa bumi serta memulai tsunami
Nah, kalau energi ini sudah mencapai titik jenuhnya, yaitu saat
akumulasinya telah melampaui tekanan akibat gesekan lempeng samudera,
akumulasi energi ini akan terlepaskan sebagai gempa bumi. Pergerakan
tiba-tiba ini mengharuskan sejumlah besar massa air di atasnya harus
segera berpindah tempat, kena gusur dan terpaksa mencari tempat menjauh
dari titik pusat gempa. Kalau bebetulan di sekitarnya ada daratan, ya
mereka rame-rame pindah ke daratan. Menyapu semua yang ada di atasnya,
seperti yang terjadi di Aceh (2004).

Gelombang tsunami bergerak menjauhi titik pusat gempa
Tidak semua gempa bumi dapat mengakibatkan tsunami. Agar dapat
terjadi tsunami, syaratnya antara lain; Titik pusat gempanya di laut,
magnitude-nya besar (sekurang-kurangnya 6.5 skala Richter), terjadi pensesaran
dip-slip, dan hiposentrum dangkal (kurang dari kedalaman 30 km).
Tsunami dapat melintasi samudera dengan sangat cepat, gambar di bawah
ini menunjukkan bagaimana tsunami yang terjadi di pantai Chile, tahun
1960, melintasi Samudera Pasifik dan tiba di Hawaii hanya sekitar 15 jam
dan Jepang dalam waktu kurang dari 24 jam.

Tsunami melintasi Samudera Pasifik
Letusan gunungapi dalam skala sangat besar juga dapat menyebabkan
tsunami. Salah satu contoh yang melegenda tentunya letusan Gunung
Krakatau di Selat Sunda. Hal ini terjadi karena letusan tersebut
menghancurkan dan mengangkat seluruh tubuh gunungapi ke udara, kemudian
dihempaskan kembali ke lautan. Lebih jelasnya tentang letusan Gunung
Krakatau dapat dibaca pada tulisan pak Awang Satyana yang sempat saya
posting sebelumnya,
“Krakatau 1883: Lethal Tsunami”.
http://yudi81.wordpress.com/2010/06/27/bagaimana-terjadinya-gelombang-tsunami/